Awalnya aku kira akan baik-baik saja, ternyata tidak. Semua menjadi begitu sulit ketika aku menyadari telah kehilangan dirinya. Hari-hari ku sejak kejadian itu menjadi semakin berat, sampai-sampai aku hampir tidak mengenal diri ku yang sesungguh nya lagi. Hati ku begitu hancur dan aku banyak menghabiskan waktu ku di kamar. Menyesali kesalahan yang telah aku perbuat. Lagi-lagi air mata ku jatuh saat mengingat waktu-waktu yang telah aku lewati bersama dengan dia. Semuanya begitu indah dan berharga. Hati ku remuk… sungguh sangat remuk. Malam itu aku ingin berteriak sekencang-kencang nya di kamar kos aku. Rasanya jika ada pintu kemana saja, aku ingin pakai buat pergi ke ujung dunia supaya aku tidak memikirkan dia lagi, supaya aku bisa melakukan hal yang tidak biasa aku lakukan. Semua terlalu berat untuk aku lewati. Semakin ingin aku lupakan, semakin aku teringat diri nya akan hari-hari yang kita lewati.
Aku menghidupkan laptopku. Aku bermaksud menceritakan keadaanku ke Ary melalui chatting. Entah apa yang terjadi dengan diriku saat itu. Hatiku mungkin sudah sedikit lebih kuat hingga aku berani menceritakan masalahku pada orang lain. Sambil chatting aku memutar playlist musik di laptopku. Sengaja kupilih lagu-lagu yang bisa mewakili suasana hatiku saat itu.
:’(
Ku ketikkan tanda emosi yang menunjukkan kalau aku sedang menangis untuk mengawali percakapanku dengan Ary sore itu.
“Ada apa May kok sore-sore dah tangis-tangisan kayak gitu?”
Maya adalah nama panggilanku di kampus Kalau temen-temen SMA dulu biasa memanggilku Luna. Nama panjangku Maya Maluna. Aku bingung mau memulai ceritaku dari mana. Terasa ada yang menetes di keyboard laptopku. Aku melihat ke atas kalau-kalau atap kamarku mulai bocor kerena hujan yang tak kunjung reda. Ternyata tidak, hanya air mataku yang jatuh kembali tak mampu ku tahan lagi. Saat ingin bercerita itulah aku jadi sedih lagi teringat semuanya itu. Di antara suara rintik air hujan yang agak mulai reda, sayup-sayup terdengar lagunya Samsons yang sengaja aku putar menemani kesedihanku.
Andaikan kau masih ada berdiri mendampingiku
Ku ingin kau pun tahu betapa ku menyayangimu
Andaikan ku sanggup untuk memutar kembali waktu
Tak pernah sekejap pun ku alihkan engkau dari perhatianku
“Aku ingin cerita tentang keanehanku”.
Kata-kata itu yang sengaja ku pilih untuk mengawali ceritaku pada Ary sambil kupaksakan untuk tersenyum. Iya, menurutku aku memang aneh.
“Keanehanmu yang mana?”
“Hikz… emangnya keanehanku banyak ya? Kok nanyanya keanehanku yang mana?”
“Hehe… aku kan gak tahu yang mana yang kamu maksud aneh itu?”
“Tapi ini rahasia lagi ya? Awas kalau sampai ada yang tahu”.
“Rahasia ke-3. Ancaman ke-14”
“Emangnya yang pertama rahasia apa? Kok sudah ancaman ke-14?”
Kali ini aku bener-bener tersenyum, bukan lagi senyum yang kubuat-buat. Memang temenku yang satu ini pandai bikin temen-temennya tertawa. Dia memang dikenal humoris, lebih tepatnya sok humoris, sok puitis dan sok romantis. Kadang aku sampai tertawa terbahak-bahak dibuatnya. Walau kadang bercandanya agak menyakitkan diriku. Tapi aku sadar, itu hanya bercanda tidak ada maksud menyakiti hatiku.
“Gini, aku critain dulu. It’s about Rio”
“OK”
“Aku critain awalnya ya? Sebenernya dari awal aku deket. Dan aku dah sadar kalo cowo ini aneh. Makanya awalnya aku juga beda memperlakukan dia”.
“Kok aneh? Maksudnya?”
“Maksudnya ada niat-niat tertentu. Itu yang akau rasakan Ry, gak tahu maksudnya dia gimana? Siapa tahu kan aku yang GR?”
“Berarti nalurimu masih berfungsi”.
“Iiih… dasar! Ya masihlah. Makanya awal-awal aku agak males diajak jalan ama dia. Trus sampai suatu saat aku lagi patah hati banget. Aku critain sama dia. Dia tahu I’m single now”.
“Wow… terus?”
“Ya udah, dia mulai deket-deket lagi. Awalnya aku sebenernya males. Tapi ya udahlah, lumayan buat pelarian, hehe… Kan katanya untuk melupakan patah hati kita butuh pelarian. Jadi ya udah, seneng-senenglah aku ma dia”.
“Witing tresno jalaran…”
“Trus aku dimarahin temen-temenku, katanya sikapku ke Rio itu bukan aku banget. Aku bukan tipe cewe yang suka mempermainkan cowo kayak gitu”.
“Kamu bukan tipe cewe yang suka mempermainkan cowo. Tapi tipe cewe yang suka dipermainkan cowo?”
“Heh! Aku critain dulu”
“Ok. Sory”
“Ya udah akhirnya aku sadar. Iya, kasihan Rio. Dia baik banget dan aku cuma mainin dia. Dan setelah itu, aku mulai merubah sikapku padanya. Pokoknya aku tegasin ke dia kalau aku nganggep dia cuma temen. Aku nangis-nangis di depan dia. Aku certain semuanya keadaanku sebenarnya. Kalau aku tu cuma butuh pelarian”.
“Trus sekarang dah cape lari-larinya?”
“Heh! Dengerin dulu. Padahal awalnya dia tu mancing-mancing banget deh. Aku sampe geli sendiri mendengarnya. Hahaha…”
“Mancing maksudnya?”
“Ya sampai akhirnya aku minta dia cariin cowo buat pelarian, eh dianya gak mau. Ya udah, akhirnya sekarang aku apa-apa ke dia. Beneran, aku bener-bener nganggep dia temen. Selalu menyadarkan kalau dia berhak mendapatkan orang yang lebih baik dari aku”.
“Baguslah, kalau kamu sadar diri, hehe…”
“Trus sampe akhirnya dia mulai nyritain cewe yang lagi deket ma dia. Ya, aku ndukung-ndukung gitu lah. Tapi kemarin sore dia kasih tau kalo dia tambah deket sama cewe itu. Dan aku sakit hati banget Ry, aku sampai gak bisa tidur semaleman. Aneh kan? Kenapa aku sakit hati? Aku kan cuma temennya.”
“Jadi sebenernya kamu itu juga ada rasa ‘suka’ ama dia”.
“Gak ah. Aku merasa sebentar lagi aku akan kehilangan dia”.
“Atau kalau gitu kamu tu sebenarnya masih ‘butuh’ dia. Gak mau dia segera meninggalkanmu”.
“Iya, aku gak mau kehilangan dia. Tapi aku terlambat mengerti Ry. Hikz… Dulu waktu dia masih suka, aku cuekin, aku pertegas kalau kita cuma temen. Sekarang? Hikz…”
“Kamu itu gak gampang suka sama seseorang, tapi kalau dah terlanjur suka juga sukar melupakannya?”
“Emang iya? Iya ya, temen-temenku juga bilang gitu. Memang awal-awalnya aku gak suka kok sama dia. Biasa aja. Huuufff… jadi sebel, kenapa dia perhatian banget siy?”
“Kamu itu tipe cewe yang gak pernah jatuh cinta pada pandangan pertama”
“Hehehe… iya. Trus?”
“Kelemahanmu itu…”
“Apa?”
“Ya yang seperti dimanfaatkan Rio itu”.
“Apa? Emangnya Rio memanfaatkanku?”
“Bukan itu maksudku. Saat kamu merasa terpuruk karena sesuatu hal. Seperti butuh pelarian
itu misalnya, seseorang yang saat itu ada untukmu, mengerti akan dirimu, selalu memperhatikannmu, mendengarkan semua keluhanmu, saat itu kamu merasa dekat dengan dia walaupun sebelumnya mungkin kamu tidak suka atau bahkan benci dirinya.”
“Iya Ry, sebenernya aku sulit juga nglupain mantanku dulu. Susah. Cuma saat itu ada Rio yang perhatiannya wuiiihhhh gilaaaa….perhatian buanget deh. Terus mantanku juga gak disini jadi lebih bisa cepet nglupain.”
“Kata orang sih cara mudah nglupain seseorang itu dengan cari pelarian.”
“Kalau aku terus-terusan cari pelarian kapan aku punya seseorang yang pasti Ry?
“Suatu saat dia akan datang pada waktu dan cara yang indah”.
“Hahahaha… Iya Ry. Tapi kenapa siy aku selalu terlambat mengerti? Mbok besuk lagi kalau ada cowo yang deket denganku aku diingetin Ry, biar gak terlambat”.
“Gak papa terlambat mengerti, kata orang lebih baik terlambat mengerti daripada tidak mengerti sama sekali, hehe… Trus gimana kabarnya Rio sekarang?”
“Dia masih tetap menjadi temen cowo terbaik di sini kok, masih tetep perhatian. Cuma aku merasa kehilangan peluang terbaikku. Trus, apa saranmu?”
“Ya kalau kamu masih suka sama dia, jalani aja biasa apa adanya. Berharaplah dia terlambat pergi?”
“Maksudmu?”
“Ya gak papa kamu terlambat mengerti. Mudah-mudahan dia juga terlambat pergi sehingga masih ada waktu untuk bersamanya lagi”.
“Bukannya aku takut akan kehilangan dirimu tapi aku takut kehilangan cintamu…”
“Kamu nyannyi?”
“Nggak, cuma teriak-teriak ngusir tikus di kolong meja”.
“Oooo…”
“Percayalah pada apa yang kamu rasakan”.
“Nah gitu Ry, sebenere aku sering mengingkari perasaanku, juga karena itu. Aku tu gak pernah pede. Hehehe… Pasti gak percaya kan?”
“Saranku, jalani dulu apa adanya”.
“Iyo Ry, let it flow. Right?”
“Kalau dia bener-bener mencintaimu, dia akan kembali lagi untukmu”.
“Lah, kalau yang kembali banyak gimana Ry? Hahaha… Ngarep”
“Dan dia tak akan mungkin bisa melupakanmu walaupun dia bersama orang lain. Dan dia sedikitpun tak akan pernah membencimu walaupun dia tak pernah bisa memilikimu. Seandainya kesempatan itu ada, dia pasti ingin kembali lagi padamu”.
“Halah…kok jadi ada yang curhat colongan ya?”
“Heh! Siapa yang curhat colongan?”
“Hihihi… Iya Ry. Thank ya.”
“Kayaknya aku jadi terinspirasi bikin cerpen dari kisahmu. Judulnya ‘Maafkan Aku Terlambat Mengerti’. Bagus gak? Hehe…”
“Iya, tapi endingnya harus yang keren Ry. Akhirnya aku ketemu cowo yang bener-bener cinta mati dengan aku dan aku juga mencintainya tanpa lagi terlambat mengerti, hehe… Cowo itu Jacob Black bangetlah Ry. Hahaha… Ngarep”.
“???!!!!”
“Trus, akhirnya kami menikah, hidup berkecukupan, punya anak yang cakep-cakep dan bahagia selamanya. Hahaha…. Dongeng banget”.
“Eh, bangun-bangun!”
“Hehehe… Iya Ry, aku dah ngantuk ini mau tidur dulu, semalem sampe gak tidur lho, meratapi kesalahan ini. Pokoknya malem ini aku mau tidur sepuasnya. Biar besok aku bisa seharian bersamanya. Hahaha…”
“Ya udah, cepetan tidur sana! Semoga apa yang kamu jalani besuk bersamanya seperti apa yang kamu mimpikan malam ini”.
Entah apa yang terjadi dengan diriku saat itu, yang jelas apa yang aku rasakan saat ini jauh berbeda dengan yang sebelumnya. Aku mulai berani berharap lagi. Berani merajut lagi mimpi-mimpiku yang telah pergi. Berani berharap setidaknya dia akan terlambat pergi walaupun sesaat. Dan yang pasti aku berani menatap masa depanku lagi. Iya benar, aku yakin suatu saat dia akan datang dengan cara yang indah pada waktu yang ditentukan oleh-Nya. Dan samar-samar masih terdengar alunan lagunya Dygta yang mulai tidak kucerna di telingaku.
Dan semua yang pernah kau berikan
T’lah membuka mataku untukmu
Kini ku mencintaimu memiliki dirimu
Dan waktu t’lah merubah segalanya
Masihkah dirimu mencintaiku
Maafkan aku, ku terlambat mengerti
sumber: www.mustphargoblog.blogdetik.com